Mukadimah Alharakah
Alhamdulillah semoga niat baik dari para muharik Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Kelurahan Ciparigi mendapatkan ridha Allah SWT serta masuk dalam gerbong barisan ummat Nabi Muhammad SAW. Semoga juga mereka masuk dalam bagian cita-cita para ulama-ulama muasis NU.
Pada Sabtu 16 Mei 2026 berlokasi di majelis Miftahul Khoir Nahdliyatus Salam, dilaksanakan Lailatul Ijtima' (LI) persiapan ranting NU Kelurahan Ciparigi. Kenapa saya sebut persiapan, sebab belum secara definitif belum mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Bogor. Rangkaian LI diantaranya tawasul dan doa yang dipimpin oleh ketua Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Bogor Utara Ustadz Abdul Jalal Murtadha, dan dilanjutkan dengan pembacaan progres program kegiatan yang telah dilaksanakan para calon-calon pengurus ranting NU Ciparigi oleh H. Raden Kamal.
Diantara yang saya rekam yaitu bahwa telah dilakukan kegiatan konsolidasi, silaturahim, keikutsertaan dalam majelis taklim, maulid, peringatan hari besar Islam wilayah Ciparigi, serta kegiatan ditingkat MWC maupun PC. Catatan tersebut kurang lebih ada 100an ivent kegiatan yang diikuti baik oleh calon ketua maupun bersama-sama calon pengurus lainnya.
Hal menarik dalam laporan tersebut, turut dibacakan kehadiran jajaran calon pengurus mulai dari yang nol kehadiran, cukup aktif sampai yang sangat aktif. Bahkan juga telah dilakukan pemetaan institusi masjid dan mushola di Ciparigi yang terafiliasi amaliah NU dengan amaliah ormas/entitas islam lainnya. Hal ini menandakan bahwa persiapan pembentukan PRNU Ciparigi yang dilewati oleh calon-calon pengurus ranting telah melewati serangkaian momentum yang seharusnya telah layak mendapatkan pengakuan dari PCNU Kota Bogor sebagai ranting devinitif. Sejak Juni 2025 hingga Mei 2026 ini, mereka telah membuktikannya dengan langkah nyata.
Pengurus Ranting Harus Bergerak
Kesepakatan dalam forum bahwa Ustadz Syamsul didaulat menjadi Rois Syuriah PRNU Ciparigi dan H. Raden Kamal sebagai Ketua Tanfidz. Selanjutnya akan disusun pengurus untuk mengisi jabatan-jabatan yang tersedia. Pengurus sudah terbentuk, maka selanjutnya MWCNU Bogor Utara segera memberikan rekomendasi ke PCNU Kota Bogor agar dapat diberikan SK kepengurusan untuk periode 2026-2031.
Sebagaimana diskusi interaktif dalam forum tersebut, banyak masukan dan harapan oleh para hadirin. Beberapa hal penting kedepan yang perlu dilakukan oleh pengurus menurut saya pribadi diantaranya: Pertama, membuat maklumat tentang kepengurusan PRNU Ciparigi kepada seluruh pihak baik unsur pemerintahan seperti Lurah, RW, RT dan juga kepada majelis taklim dan pengurus masjid-masjid serta mushola di Ciparigi. Hal ini menandakan babak baru di Ciparigi tentang keberadaan ranting NU yang siap memberikan pelayanan kepada umat Islam di Ciparigi khususnya serta juga sekaligus menegaskan bahwa ranting NU Ciparigi dapat mempererat persatuan dan kesatuan di masyarakat.
Kedua, hemat saya bahwa kedepan PRNU Ciparigi perlu membangun program penguatan pengurus dan kader NU melalui pendidikan formal dan non formal NU. Pendidikan formal yang dimaksudkan adalah jenjang kaderisasi dalam tubuh NU yaitu Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak NU (PDPKPNU), Pendidikan Menengah Kader NU (PMKNU), Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKNU). Di dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) NU Bab XIII Pasal 39 menyebutkan bahwa pendidikan kaderisasi menjadi syarat untuk menjadi pengurus NU dan badan otonomnya pada kepengurusan di tingkat cabang, wilayah, dan pengurus besar. Oleh sebab itu, penting untuk para calon pengurus ranting dapat mengikuti kaderisasi minimal PDPKPNU.
Sedangkan pendidikan non formal NU dapat dilakukan seperti dengan rihlah bersama, ngaji konstitusi, lailatul ijtima', workshop, webinar, bahtsul masail, ziarah bersama ke makam para ulama, dll. Forum non formal ini menjadi penting sebagai penguatan serta transfer pengetahuan bahkan sebagai pengingat akan kaderisasi yang telah dilakukan oleh kader NU yang pernah mengikuti NU. Disini dapat dilakukan bedah AD/ART NU, evaluasi sembilan perintah kader NU, sarana tukar menukar informasi tentang perkembangan ahlussunnah wal jamaah di Ciparigi, dll. Jika pendidikan non formal para jamaah sudah aktif, harakahnya menunjukkan ke arah positif, maka selanjutnya dapat mengikuti pendidikan secara formal sebagaimana dalam ART NU.
Ketiga, pemasangan plang di rumah para pengurus ranting dan atau serta makam-makam para almarhum rois, katib, tanfidz MWCNU periode sebelumnya. Hal ini penting sebagai upaya menumbuhkan rasa tanggung jawab pengurus kepada umat Islam tentang amanah yang diemban sebagai garda terdepan pembela agama Islam. Seperti di kediaman Rois, Katib, Ketua Tanfidz, Sekretaris, Bendahara serta pengurus lain dipasang plang didepan rumahnya, hal ini menjadi kebanggaan serta jimat bahwa NU ada dimana-mana. Pemasangan plang di makam para pengurus juga penting, hal ini untuk mengingat jasa-jasa mereka dalam berjuang untuk NU di Bogor Utara. Selain itu dapat menyambungkan akar sejarah NU di Bogor Utara.
Keempat, program terpenting pengurus NU adalah mengawal akidah Islam Ahlussunal Wal Jamaah Annahdliyyah di Ciparigi agar dapat tersyiarkan dengan penuh riang gembira. Kenapa perlu di kawal? sebab proses regenerasi keilmuan serta transfer pengetahuan tentang Aswaja Annahdliyyah membutuhkan proses panjang. Aswaja Annahdliyyah tersebut merupakan upaya para ulama NU untuk memadukan pemurnian akidah, pengamalan syariat yang benar, tasawuf, dan pelestarian budaya lokal dalam bingkai moderasi, toleransi, serta cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).
Program penguatan akidah Aswaja Annahdliyyah kepada kader NU, setidaknya harus memahami empat pilar ini yaitu: 1) Pilar Akidah: Berpedoman pada ajaran Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturid; 2) Pilar Syariat (Fiqih): Mengikuti salah satu dari empat mazhab: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali (dengan mayoritas pengikut di Indonesia condong pada Mazhab Syafi'i); 3) Pilar Tasawuf: Mengamalkan tasawuf akhlaki/amali dengan rujukan utama konsep Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi; dan 4) Pilar Sosial-Kemasyarakatan: Menerapkan nilai Mabadi’ Khaira Ummah (prinsip dasar umat terbaik) seperti kejujuran, amanah, keadilan, dan tolong-menolong.
Abdul Mun'im tidak menyalahkan akan tetap beliau mamahami bagaimana cara pandang yang dibawa tersebut mengikuti beberapa tokoh antara lain: 1) Orientalis atau Indonesianis seperti Herberth Feith, Clifford Geertz, Wertheim, Ben Anderson, William Lidle; 2) Komunis dan sosialis, seperti Tan Malaka, DN Aidit, Subandrio, Sjahrir, ST Alisyahbana, Sumitro Djojohadikusumo, Gunawan Muhammad, Mulya Lubis, Ariel Haryanto, dll; dan 3) Islam Modernis seperti Deliar Noer, Taufik Abdullah, Azyumardi Aszra yang dipandang pejortif dalam melihat tradisi. Abdul Mun'im mengatakan bahwa mereka tidak salah namun sudut pandang yang berbeda bahkan bertentangan dengan NU.
Catatan kaki saya dalam hal peran nyata NU ini juga masih tertulis dalam selembar kertas sebagai pembatas buku Fragmen Sejarah NU tersebut. Terlulis "Kita sebagai orang NU, WAJIB meluruskan sejarah. Bahwa tidak semua orang bahkan sejarawanpun jujur terhadap realitas dan fakta yang terjadi. Jangan mau NU dikerdilkan ataupun dijadikan peluru perang, namun saat NU terjeput tidak ada yang menolong. Wajar jika NU selalu mengambil sikap TENGAH, sebab NU akan MERDEKA tanpa beban yang menyulitkan diri. Tanpa diminta negara NU akan tetap menjaga dan membela. Ciparigi 10 Maret 2017 Pukul 21.05 WIB".
Penutup
Gerakan NU di Ciparigi sangat memungkinkan berkembang pesat apabila segenap pengurus kompak dengan segala kesulitan yang dihadapi. Dari kesulitan timbulah kekompakan sehingga muncul rasa ikhlas menerima serta menyusun strategi pergerakan dakwah NU di Ciparigi. Kemunculan NU akan menjadi berkah bagi wilayah Ciparigi. Aamiin.
Perlu diingat bahwa sesungguhnya NU bukan sekedar organisasi sosial, tetap juga telah membangun diri sebagai sebuah ideologi dan sekaligus mandzab pemikiran yang tertuang dalam Fikrah Nahdliyah (pemikiran NU). Oleh sebab itu NU punya strategi sendiri dan punya prespektif sendiri dalam melihat dan memaknai serta menilai realitas sosial maupun sejarah.
Hal ini perlu dipegang para intelektual NU dan pengurus NU. Agar tidak terkecoh dengan pemikiran lain yang bias ideologi, kepentingan, dan kebencian melihat NU dan memandang Indonesia.
Cilebut Barat, 17 Mei 2026; Pukul 10.25 WIB
Alfaqir: Faridh Almuhayat Uhib Hamdani