Argumentasi Klasik
Di dalam beberapa kesempatan, saya sering mendapatkan sharing informasi, keluh kesah, curhatan, bahkan sampai pada rencana aksi memisahkan diri alias bahasa santrinya mufaraqah. Hal tersebut saya simpulkan dalam beberapa poin penting diantaranya yaitu: Pertama, kaburnya misi dan tujuan dari berorganisasi. Misi yang dipahami dalam periode kepengurusan menjadi buram karena berbagai macam kepentingan, misal masukkan kepentingan pribadi, politik, atau bahkan bisnis yang tidak sejalan diantara para pengurus. Oleh sebab itu, tujuan yang semula sebatas penjabaran dari misi-misi bersama tadi akan semakin tidak jelas dan tidak tahu tujuannya akan kemana. Padahal kita tahu, berorganisasi itu sebenarnya saling bahu-membahu untuk mencapai tujuan bersama dan penting untuk diingat pengurus tidak selamanya akan menjadi pengurus, selesai periode kepengurusan mereka sebatas kenangan bahkan sudah bukan siapa-siapa. Disinilah saya ingin mengatakan, buatlah kenangan terindah semasa menjadi pengurus agar tujuan bersama tercapai.
Kedua, tidak ada program dan kegiatan yang jelas. Seharusnya dalam berorganisasi setelah sah pengurus dilantik maka perlu menyusun program dan kegiatan selama periode khidmat, walaupun hanya satu namun berjalan dengan baik, maka itu lebih baik daripada seribu program yang tidak berjalan dan bahkan mandeg ditengah jalan. Kepiawaian pemimpin (pembina, ketua, sekretaris, bendahara, dan ketua-ketua lainnya) dipertaruhkan untuk melakukan konsolidasi organisasi agar program berjalan dan bermanfaat untuk masyarakat.
Ketiga, komunikasi yang buruk serta pembagian tugas dan wewenang yang tidak berimbang. Masalah komunikasi ini penting, sebagaimana judul opini/gagasan ini bahwa "99% organisasi berhubungan soal manusia. Kenapa 99%? sebab berkumpulnya orang-orang yang akan menyatukan visi, misi, tujuan dan kerja-kerja bersama tentu hampir dipastikan akan selalu berbungan dengan: 1) Kualitas sumber daya manusia, 2) Dukungan fasilitas yang memadai, 3) Pendanaan untuk mejalankan kegiatan, 4) Sistem serta lingkungan yang kondusif. Keempat hal tersebut resources atau effort terbesar adalah tentang manusia. Pengurus harus menjamin semua anggota memiliki peran dan tanggung jawab yang adil, mereka merasa diorangkan alias dianggap penting, mereka harus dipastikan menjalan tugasnya dengan baik dan benar, mereka harus didelegasikan untuk agar dapat berkomunikasi dengan stakeholder lain dalam membangun jaringan-jaringan kerja organisasi. Sehingga organisasi dapat lebih maju dan berpengalaman dalam mengani masalah/problem yang dihadapi secara tetukur.
Ketiga kesimpulan tersebut bisa jadi salah atau gagal dalam metode perumusannya. Hal ini dikarenakan, teori yang saya gunakan tidak muncul dalam argumentasi diatas sebagaimana para ilmuwan atau peneliti atau dosen atau pengamat-pengamat lakukan. Saya mencoba memahami dari berbagai pengalaman lapangan, bahwa penyakit-penyakit organisasi itu klasik, berulang, dan tidak semua pengurus mampu menterjemahkan makna di balik peristiwa/fenomena yang sedang terjadi di organasisnya. Lalu bagaimana selanjutnya? pertanyaan ini penting.
What Next?
Seyogyanya, memecahkan masalah-masalah pengorganisasian ini cukup dengan hal-hal ringan. Kita sering mendengar kalimat "selesaikan di meja makan", "selesaikan secara adat", "bangun saling percaya menjaga norma dan etika antar pengurus", dan lain-lain. Kalimat tersebut seolah sudah tidak asing, sebab kita mendengarnya jika telah benar-benar masalah tersebut memiliki peluang untuk dirampungkan.
Bagaimana jika tidak ingin selesai oleh salah satu pihak? Maka manajemen konflik, komunikasi dan (internal dan eksternal) harus dijalankan agar terjadi win-win solution. Caranya bangun kembali visi dan misi serta tujuan. Mereka yang semula apatis, maka akan tertarik dengan sendirinya jika memang gairah berorganisasi tumbuh kembali.
Merawat Kepentingan
Bukan sesuatu yang buruk jika berbicara kepentingan dalam organisasi. Kepentingan akan selalu ada disetiap individu yang berorganisasi, sebab tanpa kepentingan mereka tidak memiliki semangat serta gagasan-gagasan konkrit untuk kemajuan organisasi.
Kepentingan ini penting untuk dirawat, dengan cara: 1) Mengakomodir kepentingan, 2) Menempatkan kepentingan dengan tepat dan bijak, 3) Mendorong kepentingan dengan melakukan instrumentasi yang jelas, 4) Mengevaluasi kepentingan agar terkontrol. Perawatan kepentingan ini biasanya dilaksanakan secara rutin dan memiliki interval yang konsistem. Semisal dilakukan per 1 semester dan per 1 tahun. Caranya yaitu gunakan asas keterbukaan kepada seluruh anggota, bahwa organisasi yang dijalankan telah mengalami kemajuan atau kemunduran dengan kepenting-kepentingan yang telah diakomodir. Konsekuensi dari hal tersebut, maka perlu adanya perbaikan dari sisi-sisi lain yang telah disepakati.
Hal diatas tidak dapat dilakukan dalam organisasi bersifat atau bertujuan ekonomi yang menempatkan anggota sebagai karyawan, dan pemegang saham sebagai bos. Hal diatas dilakukan untuk organisasi sosial dan politik.
Manusia Sebagai Objek
Hubungan manusia dengan manusia, hampir sepenuhnya dalam kendali organisasi. Sistem organisasi yang dibentuk pada akhirnya penuh dengan aturan atau norma untuk mengendalikan para anggota dan pengurusnya. Hal inilah yang sering terjadi dan menjebak manusia dalam situasi yang cukup rumit.
Sebagai penganut cabang ilmu sosial, maka hubungan sosial antar manusia di organisasi memerlukan kepemimpinan yang kuat untuk mengarahkan tujuan bersama agar sampai pada titik yang diinginkan. Membangun manusia dalam organisasi meliputi pembangunan: 1) Sumber daya manusia, 2) Pengembangan wawasan dan pengetahuan, 3) Sarana dan prasarana yang cukup, dan 4) Jaringan dan koneksitas lintas sektor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar