Minggu, 17 Mei 2026

AL HARAKAH NU CIPARIGI BARAKAH CIPARIGI

(Sumber: dokumentasi Ustadz Syahrul)


Mukadimah Alharakah
Alhamdulillah semoga niat baik dari para muharik Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Kelurahan Ciparigi mendapatkan ridha Allah SWT serta masuk dalam gerbong barisan ummat Nabi Muhammad SAW. Semoga juga mereka masuk dalam bagian cita-cita para ulama-ulama muasis NU. 

Pada Sabtu 16 Mei 2026 berlokasi di majelis Miftahul Khoir Nahdliyatus Salam, dilaksanakan Lailatul Ijtima' (LI) persiapan ranting NU Kelurahan Ciparigi. Kenapa saya sebut persiapan, sebab belum secara definitif belum mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Bogor. Rangkaian LI diantaranya tawasul dan doa yang dipimpin oleh ketua Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Bogor Utara Ustadz Abdul Jalal Murtadha, dan dilanjutkan dengan pembacaan progres program kegiatan yang telah dilaksanakan para calon-calon pengurus ranting NU Ciparigi oleh H. Raden Kamal.

Diantara yang saya rekam yaitu bahwa telah dilakukan kegiatan konsolidasi, silaturahim, keikutsertaan dalam majelis taklim, maulid, peringatan hari besar Islam wilayah Ciparigi, serta kegiatan ditingkat MWC maupun PC. Catatan tersebut kurang lebih ada 100an ivent kegiatan yang diikuti baik oleh calon ketua maupun bersama-sama calon pengurus lainnya.

Hal menarik dalam laporan tersebut, turut dibacakan kehadiran jajaran calon pengurus mulai dari yang nol kehadiran, cukup aktif sampai yang sangat aktif. Bahkan juga telah dilakukan pemetaan institusi masjid dan mushola di Ciparigi yang terafiliasi amaliah NU dengan amaliah ormas/entitas islam lainnya. Hal ini menandakan bahwa persiapan pembentukan PRNU Ciparigi yang dilewati oleh calon-calon pengurus ranting telah melewati serangkaian momentum yang seharusnya telah layak mendapatkan pengakuan dari PCNU Kota Bogor sebagai ranting devinitif. Sejak Juni 2025 hingga Mei 2026 ini, mereka telah membuktikannya dengan langkah nyata.


Pengurus Ranting Harus Bergerak
Kesepakatan dalam forum bahwa Ustadz Syamsul didaulat menjadi Rois Syuriah PRNU Ciparigi dan H. Raden Kamal sebagai Ketua Tanfidz. Selanjutnya akan disusun pengurus untuk mengisi jabatan-jabatan yang tersedia. Pengurus sudah terbentuk, maka selanjutnya MWCNU Bogor Utara segera memberikan rekomendasi ke PCNU Kota Bogor agar dapat diberikan SK kepengurusan untuk periode 2026-2031. 

Sebagaimana diskusi interaktif dalam forum tersebut, banyak masukan dan harapan oleh para hadirin. Beberapa hal penting kedepan yang perlu dilakukan oleh pengurus menurut saya pribadi diantaranya: Pertama,  membuat maklumat tentang kepengurusan PRNU Ciparigi kepada seluruh pihak baik unsur pemerintahan seperti Lurah, RW, RT dan juga kepada majelis taklim dan pengurus masjid-masjid serta mushola di Ciparigi. Hal ini menandakan babak baru di Ciparigi tentang keberadaan ranting NU yang siap memberikan pelayanan kepada umat Islam di Ciparigi khususnya serta juga sekaligus menegaskan bahwa ranting NU Ciparigi dapat mempererat persatuan dan kesatuan di masyarakat.

Kedua, hemat saya bahwa kedepan PRNU Ciparigi perlu membangun program penguatan pengurus dan kader NU melalui pendidikan formal dan non formal NU. Pendidikan formal yang dimaksudkan adalah jenjang kaderisasi dalam tubuh NU yaitu Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak NU (PDPKPNU), Pendidikan Menengah Kader NU (PMKNU), Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKNU). Di dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) NU Bab XIII Pasal 39 menyebutkan bahwa pendidikan kaderisasi menjadi syarat untuk menjadi pengurus NU dan badan otonomnya pada kepengurusan di tingkat cabang, wilayah, dan pengurus besar. Oleh sebab itu, penting untuk para calon pengurus ranting dapat mengikuti kaderisasi minimal PDPKPNU. 

Sedangkan pendidikan non formal NU dapat dilakukan seperti dengan rihlah bersama, ngaji konstitusi, lailatul ijtima', workshop, webinar, bahtsul masail, ziarah bersama ke makam para ulama, dll. Forum non formal ini menjadi penting sebagai penguatan serta transfer pengetahuan bahkan sebagai pengingat akan kaderisasi yang telah dilakukan oleh kader NU yang pernah mengikuti NU. Disini dapat dilakukan bedah AD/ART NU, evaluasi sembilan perintah kader NU, sarana tukar menukar informasi tentang perkembangan ahlussunnah wal jamaah di Ciparigi, dll. Jika pendidikan non formal para jamaah sudah aktif, harakahnya menunjukkan ke arah positif, maka selanjutnya dapat mengikuti pendidikan secara formal sebagaimana dalam ART NU.

Ketiga, pemasangan plang di rumah para pengurus ranting dan atau serta makam-makam para almarhum rois, katib, tanfidz MWCNU periode sebelumnya. Hal ini penting sebagai upaya menumbuhkan rasa tanggung jawab pengurus kepada umat Islam tentang amanah yang diemban sebagai garda terdepan pembela agama Islam. Seperti di kediaman Rois, Katib, Ketua Tanfidz, Sekretaris, Bendahara serta pengurus lain dipasang plang didepan rumahnya, hal ini menjadi kebanggaan serta jimat bahwa NU ada dimana-mana. Pemasangan plang di makam para pengurus juga penting, hal ini untuk mengingat jasa-jasa mereka dalam berjuang untuk NU di Bogor Utara. Selain itu dapat menyambungkan akar sejarah NU di Bogor Utara. 

Keempat,  program terpenting pengurus NU adalah mengawal akidah Islam Ahlussunal Wal Jamaah Annahdliyyah di Ciparigi agar dapat tersyiarkan dengan penuh riang gembira. Kenapa perlu di kawal? sebab proses regenerasi keilmuan serta transfer pengetahuan tentang Aswaja Annahdliyyah membutuhkan proses panjang. Aswaja Annahdliyyah tersebut merupakan upaya para ulama NU untuk memadukan pemurnian akidah, pengamalan syariat yang benar, tasawuf, dan pelestarian budaya lokal dalam bingkai moderasi, toleransi, serta cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).

Program penguatan akidah Aswaja Annahdliyyah kepada kader NU, setidaknya harus memahami empat pilar ini yaitu: 1) Pilar Akidah: Berpedoman pada ajaran Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturid; 2) Pilar Syariat (Fiqih): Mengikuti salah satu dari empat mazhab: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali (dengan mayoritas pengikut di Indonesia condong pada Mazhab Syafi'i); 3) Pilar Tasawuf: Mengamalkan tasawuf akhlaki/amali dengan rujukan utama konsep Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi; dan 4) Pilar Sosial-Kemasyarakatan: Menerapkan nilai Mabadi’ Khaira Ummah (prinsip dasar umat terbaik) seperti kejujuran, amanah, keadilan, dan tolong-menolong.

Kelima, melihat peran nyata NU melalui "tulis sejarah". Gerakan ini saya anggap penting sebab jika NU tidak memiliki kekuatan menulis maka NU dalam catatan sejarah akan dianggap kecil tanpa peran nyata di masyarakat. Hal ini terjadi sebagai tulisan KH. Abdul Mun'in dalam Fragmen Sejarah NU halaman 15, bahwa ada kalangan NU yang menulis sejarah dan peran sosial politik NU dengan sangat buruk. Sebab prespektif yang digunakan mengikuti pandangan orientalis dan modernis lainnya. Beliau menyebut sebagai cara pandang sembarang, serampangan sehingga sosok dan peran NU tidak kelihatan sehingga tidak membawa kemajuan dari segi data dan pandangan serta maknanya.  

Abdul Mun'im tidak menyalahkan akan tetap beliau mamahami bagaimana cara pandang yang dibawa tersebut mengikuti beberapa tokoh antara lain: 1) Orientalis atau Indonesianis seperti Herberth Feith, Clifford Geertz, Wertheim, Ben Anderson, William Lidle; 2) Komunis dan sosialis, seperti Tan Malaka, DN Aidit, Subandrio, Sjahrir, ST Alisyahbana, Sumitro Djojohadikusumo, Gunawan Muhammad, Mulya Lubis, Ariel Haryanto, dll; dan 3) Islam Modernis seperti Deliar Noer, Taufik Abdullah, Azyumardi Aszra yang dipandang pejortif dalam melihat tradisi. Abdul Mun'im mengatakan bahwa mereka tidak salah namun sudut pandang yang berbeda bahkan bertentangan dengan NU. 

Catatan kaki saya dalam hal peran nyata NU ini juga masih tertulis dalam selembar kertas sebagai pembatas buku Fragmen Sejarah NU tersebut. Terlulis "Kita sebagai orang NU, WAJIB meluruskan sejarah. Bahwa tidak semua orang bahkan sejarawanpun jujur terhadap realitas dan fakta yang terjadi. Jangan mau NU dikerdilkan ataupun dijadikan peluru perang, namun saat NU terjeput tidak ada yang menolong. Wajar jika NU selalu mengambil sikap TENGAH, sebab NU akan MERDEKA tanpa beban yang menyulitkan diri. Tanpa diminta negara NU akan tetap menjaga dan membela. Ciparigi 10 Maret 2017 Pukul 21.05 WIB"


Penutup 
Gerakan NU di Ciparigi sangat memungkinkan berkembang pesat apabila segenap pengurus kompak dengan segala kesulitan yang dihadapi. Dari kesulitan timbulah kekompakan sehingga muncul rasa ikhlas menerima serta menyusun strategi pergerakan dakwah NU di Ciparigi. Kemunculan NU akan menjadi berkah bagi wilayah Ciparigi. Aamiin.

Perlu diingat bahwa sesungguhnya NU bukan sekedar organisasi sosial, tetap juga telah membangun diri sebagai sebuah ideologi dan sekaligus mandzab pemikiran yang tertuang dalam Fikrah Nahdliyah (pemikiran NU). Oleh sebab itu NU punya strategi sendiri dan punya prespektif sendiri dalam melihat dan memaknai serta menilai realitas sosial maupun sejarah.

Hal ini perlu dipegang para intelektual NU dan pengurus NU. Agar tidak terkecoh dengan pemikiran lain yang bias ideologi, kepentingan, dan kebencian melihat NU dan memandang Indonesia.


Cilebut Barat, 17 Mei 2026; Pukul 10.25 WIB

Alfaqir: Faridh Almuhayat Uhib Hamdani



Minggu, 03 Mei 2026

99 PERSEN ORGANISASI BERHUBUNGAN SOAL MANUSIA




Argumentasi Klasik

Di dalam beberapa kesempatan, saya sering mendapatkan sharing informasi, keluh kesah, curhatan, bahkan sampai pada rencana aksi memisahkan diri alias bahasa santrinya mufaraqah. Hal tersebut saya simpulkan dalam beberapa poin penting diantaranya yaitu: Pertama, kaburnya misi dan tujuan dari berorganisasi. Misi yang dipahami dalam periode kepengurusan menjadi buram karena berbagai macam kepentingan, misal masukkan kepentingan pribadi, politik, atau bahkan bisnis yang tidak sejalan diantara para pengurus. 

Oleh sebab itu, tujuan yang semula sebatas penjabaran dari misi-misi bersama tadi akan semakin tidak jelas dan tidak tahu tujuannya akan kemana. Padahal kita tahu, berorganisasi itu sebenarnya saling bahu-membahu untuk mencapai tujuan bersama dan penting untuk diingat pengurus tidak selamanya akan menjadi pengurus, selesai periode kepengurusan mereka sebatas kenangan bahkan sudah bukan siapa-siapa. Disinilah saya ingin mengatakan, buatlah kenangan terindah semasa menjadi pengurus agar tujuan bersama tercapai.

Kedua, tidak ada program dan kegiatan yang jelas. Seharusnya dalam berorganisasi setelah sah pengurus dilantik maka perlu menyusun program dan kegiatan selama periode khidmat, walaupun hanya satu namun berjalan dengan baik, maka itu lebih baik daripada seribu program yang tidak berjalan dan bahkan mandeg ditengah jalan. Kepiawaian pemimpin (pembina, ketua, sekretaris, bendahara, dan ketua-ketua lainnya) dipertaruhkan untuk melakukan konsolidasi organisasi agar program berjalan dan bermanfaat untuk masyarakat.

Ketiga, komunikasi yang buruk serta pembagian tugas dan wewenang yang tidak berimbang. Masalah komunikasi ini penting, sebagaimana judul opini/gagasan ini bahwa "99% organisasi berhubungan soal manusia. Kenapa 99%? sebab berkumpulnya orang-orang yang akan menyatukan visi, misi, tujuan dan kerja-kerja bersama tentu hampir dipastikan akan selalu berbungan dengan: 1) Kualitas sumber daya manusia, 2) Dukungan fasilitas yang memadai, 3) Pendanaan untuk mejalankan kegiatan, 4) Sistem serta lingkungan yang kondusif. Keempat hal tersebut resources atau effort terbesar adalah tentang manusia. Pengurus harus menjamin semua anggota memiliki peran dan tanggung jawab yang adil, mereka merasa diorangkan alias dianggap penting, mereka harus dipastikan menjalan tugasnya dengan baik dan benar, mereka harus didelegasikan untuk agar dapat berkomunikasi dengan stakeholder lain dalam membangun jaringan-jaringan kerja organisasi. Sehingga organisasi dapat lebih maju dan berpengalaman dalam mengani masalah/problem yang dihadapi secara tetukur.

Ketiga kesimpulan tersebut bisa jadi salah atau gagal dalam metode perumusannya. Hal ini dikarenakan, teori yang saya gunakan tidak muncul dalam argumentasi diatas sebagaimana para ilmuwan atau peneliti atau dosen atau pengamat-pengamat lakukan. Saya mencoba memahami dari berbagai pengalaman lapangan, bahwa penyakit-penyakit organisasi itu klasik, berulang, dan tidak semua pengurus mampu menterjemahkan makna di balik peristiwa/fenomena yang sedang terjadi di organasisnya. Lalu bagaimana selanjutnya? pertanyaan ini penting.

What Next?

Seyogyanya, memecahkan masalah-masalah pengorganisasian ini cukup dengan hal-hal ringan. Kita sering mendengar kalimat "selesaikan di meja makan", "selesaikan secara adat", "bangun saling percaya menjaga norma dan etika antar pengurus", dan lain-lain.  Kalimat tersebut seolah sudah tidak asing, sebab kita mendengarnya jika telah benar-benar masalah tersebut memiliki peluang untuk dirampungkan. 

Bagaimana jika tidak ingin selesai oleh salah satu pihak? Maka manajemen konflik, komunikasi dan (internal dan eksternal) harus dijalankan agar terjadi win-win solution. Caranya bangun kembali visi dan misi serta tujuan. Mereka yang semula apatis, maka akan tertarik dengan sendirinya jika memang gairah berorganisasi tumbuh kembali.

Merawat Kepentingan

Bukan sesuatu yang buruk jika berbicara kepentingan dalam organisasi. Kepentingan akan selalu ada disetiap individu yang berorganisasi, sebab tanpa kepentingan mereka tidak memiliki semangat serta gagasan-gagasan konkrit untuk kemajuan organisasi.

Kepentingan ini penting untuk dirawat, dengan cara: 1) Mengakomodir kepentingan, 2) Menempatkan kepentingan dengan tepat dan bijak, 3) Mendorong kepentingan dengan melakukan instrumentasi yang jelas, 4) Mengevaluasi kepentingan agar terkontrol. Perawatan kepentingan ini biasanya dilaksanakan secara rutin dan memiliki interval yang konsistem. Semisal dilakukan per 1 semester dan per 1 tahun. Caranya yaitu gunakan asas keterbukaan kepada seluruh anggota, bahwa organisasi yang dijalankan telah mengalami kemajuan atau kemunduran dengan kepenting-kepentingan yang telah diakomodir. Konsekuensi dari hal tersebut, maka perlu adanya perbaikan dari sisi-sisi lain yang telah disepakati.

Hal diatas tidak dapat dilakukan dalam organisasi  bersifat atau bertujuan ekonomi yang menempatkan anggota sebagai karyawan, dan pemegang saham sebagai bos. Tetapi dilakukan untuk organisasi sosial dan politik.

Manusia Sebagai Objek 

Hubungan manusia dengan manusia, hampir sepenuhnya dalam kendali organisasi. Sistem organisasi yang dibentuk pada akhirnya penuh dengan aturan atau norma untuk mengendalikan para anggota dan pengurusnya. Hal inilah yang sering terjadi dan menjebak manusia dalam situasi yang cukup rumit.

Sebagai penganut cabang ilmu sosial, maka hubungan sosial antar manusia di organisasi memerlukan kepemimpinan yang kuat untuk mengarahkan tujuan bersama agar sampai pada titik yang diinginkan. Membangun manusia dalam organisasi meliputi pembangunan: 1) Sumber daya manusia, 2) Pengembangan wawasan dan pengetahuan, 3) Sarana dan prasarana yang cukup, dan 4) Jaringan dan koneksitas lintas sektor.

Oleh sebab apapun, organisasi akan mengurus manusia agar dapat berjalan dengan tujuan yang jelas dan memberikan dampak bagi yang lain. Paling penting dan urgen setelah 99% tentang manusia, 1% adalah komitmen dan kebersamaan/keterikatan hati saling asah, asih, dan asuh serta doa. Kenapa begitu? Sebab tanpa komitmen percuma organisasi akan berjalan, tanpa keterikatan hati percuma organisasi hanya sebatas tempat berkumpul tanpa manfaat, tanpa doa percuma organisasi di dirikan jika tidak menambah iman dan taqwa kepada Allah SWT Tuhan YME 

Semoga bermanfaat.

Cilebut Barat, 3 Mei 2026 / 15 Dzulqa'dah 1447 H

Alfaqir: Faridh Almuhayat Uhib H.

Sabtu, 02 Mei 2026

MERAWAT TRADISI ISLAM NUSANTARA DI CILEBUT BARAT

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Prolog
Kemarin sore (1 Mei 2026) tiba-tiba saya mendapatkan pesan whatsapp (WA) dari Sahabat Fathah (sahabat baru karena dalam sebuah agenda besar yaitu HaHa Team). Pesan WA tersebut mengajak untuk hadir dalam lailatul ijtima'a (LI) Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PR NU)Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Tidak berselang lama, pesan WA juga datang dari Bapak Fajar selaku Sekretaris PR NU Cilebut Barat yang mengundang saya untuk hadir.

Sebagai warga baru (newbie) berdomisili di Cilebut Barat, saya menghormati shohibul wilayah untuk menghadiri undangan tersebut. Dengan niat silaturahim dan thalbul ilmi serta rihlah memahami keragaman sosial, budaya, dan geografis di Cilebut Barat. Hal ini merupakan hobi saya, jika di suatu wilayah baru saya pasti melakukan jalan-jalan pagi untuk olah raga sambil mengenal daerah tersebut, namun tidak kali ini. Saya menggunakan sepeda motor untuk menuju lokasi LI tersebut yang tergolong cukup menarik yaitu masuk gang kecil, menyeberangi sungai, turunan tajam, dan tanjakan. 

Sekilas Cilebut Barat

(Sumber: google map/captured on 2 Mei 2026)

Secara geografis memang Desa Cilebut Barat memiliki kondisi kontur yang beragam dan unik. Dengan luas wilayah 4.001,26 m persegu atau 4 km persegi, desa Cilebut Barat dilewati beberapa sungai seperti sungai Pesanggrahan, Ciliwung, da Westerslokan serta anak-anak sungai kecil. Desa ini memainkan peranan penting sebagai wilayah penyangga Kota Bogor, Kota Depok, bahkan Jakarta (Jabodetabek). Jumlah penduduk diperkirakan 36.029 jiwa dengan suku asli yaitu Sunda. Namun kini suku yang bertempat tinggal di desa ini termasuk keragaman agama dan budaya karena mudahnya akses serta kemajuan jaman (Sumber: diolah dari berbagai sumber).

Potensi sumber daya alam juga cukup menarik, masih banyak petani/pekebun yang mengolah tanah dengan menanam tanaman semusim seperti tanaman palawija. Jika kita potensi lain yang dapat dimanfaatkan seperti banyak pohon yang multi fungsi seperti pohon Randu, pohon Aren, dan buah-buahan yang dijumpai dikebun, pinggir sungai, dan areal hijau lainnya. 

Tidak dipungkiri, bahwa ledakan penduduk akan terus meningkat. Tekanan kebutuhan lahan untuk pemukiman, transportasi, pertokoan, dan penggunaan lain cukup tinggi. Inilah tantangan pemerintah dalam mengatasi ledakan penduduk serta kebutuhan akan lahan. Jika tidak diantisipasi maka konflik sosial akan semakin tinggi. Bisa saja dimulai dari penguasaan lahan, dominansi suku dan agama, dan atau karena perbedaan pandangan politik. Dua sisi mata uang yang saling berkaitan yaitu antara potensi dan kelemahan yang harus dikelola dengan baik oleh pemerintah juga seluruh komponen masyarakat desa Cilebut Barat.

Kultural yang Sakral

Menyelami kondisi masyarakat di desa Cilebut Barat tidak mudah dilakukan, membutuhkan berbagai prespektif dan cara pandang yang tepat serta waktu yang cukup agar kita paham apa yang sebenar terjadi di wilayah ini. Sekilas masyarakat pemeluk agama Islam di Cilebut Barat didominasi amaliah Ahlussunnah Wal Jamaah. 

Indikatornya adalah masih terjaganya nilai-nilai tradisi keislaman yang mengakar bersamaan dengan budaya setempat, seperti Muludan, Syawalan, Rajaban, Tahlilan, Selamatan, Puji-pujian dimasjid-masjid, kajian-kajian kitab kuning, serta pengamalan wirid-wirid (Ratib, Hizib, dll). Bahkan hari Senin atau Jumat pun masih ada yang memegang tradisi tidak bekerja alias dirumah bersama keluarga (hal ini ditemui beberapa orang yang pernah saya temui).

Nilai-nilai yang telah lama berjalan di masyarakat tersebut menjadi kultur/kebiasaan yang melekat hingga kini, terutama generasi tua. Bagaimana dengan generasi mudanya? Hal inilah pekerjaan rumah dari Nahdlatul Ulama (NU) untuk merawat, menjaga, mensyiarkan nilai-nilai tersebut. Kultur tersebut boleh dikatakan sakral, sebab sulit untuk menciptakan nilai-nilai yang diamalkan hingga mengakar serta menjadi budaya masyarakat. 

Jika kita flashback kita merasakan betapa hebatnya dan canggihnya para leluhur kita, kiai, ajengan, ibu nyai dalam menanamkan nilai keislaman tersebut di lingkungan masyarakat. Ilmu yang tinggi dipadukan dengan kearifan jiwa tidak menjadikannya sombong dan angkuh dalam beragama dan berbudaya. Pandangan dhahir terkadang menipu kita, gaya yang sederhana dengan sarung, peci/kopiah hitam/udeng khas sunda, sorban sederhana dianggap kampungan tidak memiliki ilmu (oleh sebagian orang yang tidak paham, sering terjadi oleh para pemeluk agama yang gaya modern bisa juga kauf salafi/wahabi/modernis lainnya). Begitu juga yang perempuan, dengan kerudung sederhana, kain jarik, baju sederhana, ibu nyai dianggap orang biasa juga. Dibalik pandangan dzahir yang terkadang keliru tersebut, mereka sedang memainkan peran penting dalam menanamkan budaya dan peradaban nusantara yang arif, bijak, dan penuh nilai pengamalan agama.

Agama sebagai pondasi diejawantahkan dalam kajian kitab seperti tafsil Al Qur'an, tafsir hadist, ta'limul muta'alim, bidayatul hidayah, bulughul maram, dll yang ditanamkan dengan mengajari pemaknaan masing-masing kata dalam kitab. Tidak heran jika generasi tua dulu mereka mengaji kepada kiai/ibu nyai penuh sabar, sebab dalam satu kali kajian tidak langsung selesai satu halaman kitab sebab pemaknaan dan tafsir yang dijelaskan cukup luas. Semoga saja generasi muslim kini dan akan datang dapat mencontoh keistiqamahan para pendahulu kita.

Lailatul Ijtima' Nahdlatul Ulama

Kegiatan LI PR NU Cilebut Barat kemarin menjadi momentum konsolidasi organisasi (silaturahim, talabu'l ilmi, rihlah, dll). Saat sebagian besar masyarakat asyik tidur atau berkegiatan diluar, NU memiliki ciri khas (leklek-an/melawan rasa kantuk untuk konsolidasi). Hal ini benar, sebab LI baru dimulai kurang lebih pukul 21.00 WIB, sampai saya menuju lokasi yang kebetulan tepat 21.40an WIB, acara belum selesai. Ajengan masih menyajikan penjelasan kitab kepada jamaah. 

Kehadiran para muharik NU yang saya lihat seperti pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Sukaraja, penguru Gerakan Pemudan Ansor Anak Cabang Sukaraja, pengurus ranting NU Desa Cilebut Barat dan jamaah termasuk saya merupakan spirit dalam membangun organisasi bagi pengurus saat ini. Sebagai masyarakat biasa, tentu keberadaan NU menjadi sangat penting sebab jamiiyaah ini sebagai pondasi penjaga tradisi yang sakral hingga sebagai tauladan bagi masyarakat / organiasi lainnya.

Ilmu yang disampaikan yang saya dapat hanya satu, bahwa ilmu akan diangkat bersama orang-orang berilmu (ulama). Tentu tidak akan kita dapat lagi yang sepadan dengan yang ada saat para ulama itu ada. Dampaknya luas. Saya mendengarnya cukup sedih, dan saya kadang bertanya kepada Allah: "kenapa Allah SWT tiak menurunkan pewarisnya sebelum wafat?setidaknya ilmu yang sehebat ulama tersebut ya?". Menggelitik, namun jawaban ini terkadang diperoleh dalam sebuah fenomena kemunculan para ulama-ulama muda. Kaget, tiba-tiba muncul apa karena efek media sosial atau memang ilmunya yang mumpuni. Seberti ulama muda asal Banten mengarang kitab dan berbagai jawaban tentang bab batalnya nasab habaib ba'alwi. Kata dan jawaban ilmiah yang luas seolah-olah tidak habis-habisnya, semakin dalam seperti samudera (Catatan tentang ini, bagi pembaca yang tidak sepaham tidak perlu marah dan memutus persaudaraan kita ya). 

Namun pertanyaan menggelitik diatas saya kembalikan, bahwa hal itu otoritas Allah SWT. Dia memilih kekasih-kekasihNya sesuai kehendaknya, agar orang-orang bodoh seperti saya ini paham akan qadha dan qadar serta takdirNya.

Sebagai penutup. Jika boleh berharap, semoga momentum LI kemarin dapat menyusun kerja-kerja kolektif di Cilebut Barat. Agar lebih mudah setidaknya pengurus dapat menjalankan 9 (sembilan) perintah kader yang diberikan oleh instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) saat itu, yaitu:

  1. Susun database potensi kepengurusan NU Cabang/MWC hingga ranting;
  2. Konsolidasikan kegiatan keagamaan Ahlussunnah Wal Jamaah di dalam organisasi NU maupun di masyarakat
  3. Kunjungi dan datangi para ulama, para kiai, tokoh kuncu yang berpengaruh di masyarakat maupun di organisasi NU
  4. Petakan orang-orang dan simpul gerakan yang berindikasi menyebarkan menyebarkan paham wahbi, radikal islam, faham liberal, neo-komunis dalam segala bentuk dan manifestasinya
  5. Petakan problem dan kelemahan serta ancaman, tantangan dan hambatam terhadap NU di semua tingkatan.
  6. Gerakkan potensi ekonomi warga NU serta sumber-sumber pendanaan NU
  7. Lakukan observasi dan identifikasi perkembangan jumlah warga NU
  8. Lakukan pendataan dan identifikasi lembaga-lembaga strategis NU mulai dari pesantren, masjid-masjid, madrasar, perguruan islam dan lembaga mabarot di lingkungan NU
  9. Lakukan pengembangan jaringan strategis di dalam NU dan di luar NU
Semoga Allah SWT dan Rasulullah SAW memandang kita sebagai hamda dan umat yang selalu mengikuti jejak langkahnya. Sebagaimana prinsip yang diberikan oleh Prof. KH. Said Aqil Siraj, bahwa kita warga NU harus yakin bahwa kita pemegang mandat kebenaran, pemegang estafet keilmuan. Maka dari itu, kita harus hati-hati dan dapat menjadi suri tauladan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam merawat tradisi Islam Nusantara. 

Semoga bermanfaat. Syukron wadumtum fi khairi wabarakati wannajah. Wallahulmuwafiq ila aqwamith tharieq.

Bukit Cilebut Residence, 2 Mei 2026
Alfaqir: Faridh Almuhayat Uhib H.