Sabtu, 02 Mei 2026

MERAWAT TRADISI ISLAM NUSANTARA DI CILEBUT BARAT

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Prolog
Kemarin sore (1 Mei 2026) tiba-tiba saya mendapatkan pesan whatsapp (WA) dari Sahabat Fathah (sahabat baru karena dalam sebuah agenda besar yaitu HaHa Team). Pesan WA tersebut mengajak untuk hadir dalam lailatul ijtima'a (LI) Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PR NU)Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Tidak berselang lama, pesan WA juga datang dari Bapak Fajar selaku Sekretaris PR NU Cilebut Barat yang mengundang saya untuk hadir.

Sebagai warga baru (newbie) berdomisili di Cilebut Barat, saya menghormati shohibul wilayah untuk menghadiri undangan tersebut. Dengan niat silaturahim dan thalbul ilmi serta rihlah memahami keragaman sosial, budaya, dan geografis di Cilebut Barat. Hal ini merupakan hobi saya, jika di suatu wilayah baru saya pasti melakukan jalan-jalan pagi untuk olah raga sambil mengenal daerah tersebut, namun tidak kali ini. Saya menggunakan sepeda motor untuk menuju lokasi LI tersebut yang tergolong cukup menarik yaitu masuk gang kecil, menyeberangi sungai, turunan tajam, dan tanjakan. 

Sekilas Cilebut Barat

(Sumber: google map/captured on 2 Mei 2026)

Secara geografis memang Desa Cilebut Barat memiliki kondisi kontur yang beragam dan unik. Dengan luas wilayah 4.001,26 m persegu atau 4 km persegi, desa Cilebut Barat dilewati beberapa sungai seperti sungai Pesanggrahan, Ciliwung, da Westerslokan serta anak-anak sungai kecil. Desa ini memainkan peranan penting sebagai wilayah penyangga Kota Bogor, Kota Depok, bahkan Jakarta (Jabodetabek). Jumlah penduduk diperkirakan 36.029 jiwa dengan suku asli yaitu Sunda. Namun kini suku yang bertempat tinggal di desa ini termasuk keragaman agama dan budaya karena mudahnya akses serta kemajuan jaman (Sumber: diolah dari berbagai sumber).

Potensi sumber daya alam juga cukup menarik, masih banyak petani/pekebun yang mengolah tanah dengan menanam tanaman semusim seperti tanaman palawija. Jika kita potensi lain yang dapat dimanfaatkan seperti banyak pohon yang multi fungsi seperti pohon Randu, pohon Aren, dan buah-buahan yang dijumpai dikebun, pinggir sungai, dan areal hijau lainnya. 

Tidak dipungkiri, bahwa ledakan penduduk akan terus meningkat. Tekanan kebutuhan lahan untuk pemukiman, transportasi, pertokoan, dan penggunaan lain cukup tinggi. Inilah tantangan pemerintah dalam mengatasi ledakan penduduk serta kebutuhan akan lahan. Jika tidak diantisipasi maka konflik sosial akan semakin tinggi. Bisa saja dimulai dari penguasaan lahan, dominansi suku dan agama, dan atau karena perbedaan pandangan politik. Dua sisi mata uang yang saling berkaitan yaitu antara potensi dan kelemahan yang harus dikelola dengan baik oleh pemerintah juga seluruh komponen masyarakat desa Cilebut Barat.

Kultural yang Sakral

Menyelami kondisi masyarakat di desa Cilebut Barat tidak mudah dilakukan, membutuhkan berbagai prespektif dan cara pandang yang tepat serta waktu yang cukup agar kita paham apa yang sebenar terjadi di wilayah ini. Sekilas masyarakat pemeluk agama Islam di Cilebut Barat didominasi amaliah Ahlussunnah Wal Jamaah. 

Indikatornya adalah masih terjaganya nilai-nilai tradisi keislaman yang mengakar bersamaan dengan budaya setempat, seperti Muludan, Syawalan, Rajaban, Tahlilan, Selamatan, Puji-pujian dimasjid-masjid, kajian-kajian kitab kuning, serta pengamalan wirid-wirid (Ratib, Hizib, dll). Bahkan hari Senin atau Jumat pun masih ada yang memegang tradisi tidak bekerja alias dirumah bersama keluarga (hal ini ditemui beberapa orang yang pernah saya temui).

Nilai-nilai yang telah lama berjalan di masyarakat tersebut menjadi kultur/kebiasaan yang melekat hingga kini, terutama generasi tua. Bagaimana dengan generasi mudanya? Hal inilah pekerjaan rumah dari Nahdlatul Ulama (NU) untuk merawat, menjaga, mensyiarkan nilai-nilai tersebut. Kultur tersebut boleh dikatakan sakral, sebab sulit untuk menciptakan nilai-nilai yang diamalkan hingga mengakar serta menjadi budaya masyarakat. 

Jika kita flashback kita merasakan betapa hebatnya dan canggihnya para leluhur kita, kiai, ajengan, ibu nyai dalam menanamkan nilai keislaman tersebut di lingkungan masyarakat. Ilmu yang tinggi dipadukan dengan kearifan jiwa tidak menjadikannya sombong dan angkuh dalam beragama dan berbudaya. Pandangan dhahir terkadang menipu kita, gaya yang sederhana dengan sarung, peci/kopiah hitam/udeng khas sunda, sorban sederhana dianggap kampungan tidak memiliki ilmu (oleh sebagian orang yang tidak paham, sering terjadi oleh para pemeluk agama yang gaya modern bisa juga kauf salafi/wahabi/modernis lainnya). Begitu juga yang perempuan, dengan kerudung sederhana, kain jarik, baju sederhana, ibu nyai dianggap orang biasa juga. Dibalik pandangan dzahir yang terkadang keliru tersebut, mereka sedang memainkan peran penting dalam menanamkan budaya dan peradaban nusantara yang arif, bijak, dan penuh nilai pengamalan agama.

Agama sebagai pondasi diejawantahkan dalam kajian kitab seperti tafsil Al Qur'an, tafsir hadist, ta'limul muta'alim, bidayatul hidayah, bulughul maram, dll yang ditanamkan dengan mengajari pemaknaan masing-masing kata dalam kitab. Tidak heran jika generasi tua dulu mereka mengaji kepada kiai/ibu nyai penuh sabar, sebab dalam satu kali kajian tidak langsung selesai satu halaman kitab sebab pemaknaan dan tafsir yang dijelaskan cukup luas. Semoga saja generasi muslim kini dan akan datang dapat mencontoh keistiqamahan para pendahulu kita.

Lailatul Ijtima' Nahdlatul Ulama

Kegiatan LI PR NU Cilebut Barat kemarin menjadi momentum konsolidasi organisasi (silaturahim, talabu'l ilmi, rihlah, dll). Saat sebagian besar masyarakat asyik tidur atau berkegiatan diluar, NU memiliki ciri khas (leklek-an/melawan rasa kantuk untuk konsolidasi). Hal ini benar, sebab LI baru dimulai kurang lebih pukul 21.00 WIB, sampai saya menuju lokasi yang kebetulan tepat 21.40an WIB, acara belum selesai. Ajengan masih menyajikan penjelasan kitab kepada jamaah. 

Kehadiran para muharik NU yang saya lihat seperti pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Sukaraja, penguru Gerakan Pemudan Ansor Anak Cabang Sukaraja, pengurus ranting NU Desa Cilebut Barat dan jamaah termasuk saya merupakan spirit dalam membangun organisasi bagi pengurus saat ini. Sebagai masyarakat biasa, tentu keberadaan NU menjadi sangat penting sebab jamiiyaah ini sebagai pondasi penjaga tradisi yang sakral hingga sebagai tauladan bagi masyarakat / organiasi lainnya.

Ilmu yang disampaikan yang saya dapat hanya satu, bahwa ilmu akan diangkat bersama orang-orang berilmu (ulama). Tentu tidak akan kita dapat lagi yang sepadan dengan yang ada saat para ulama itu ada. Dampaknya luas. Saya mendengarnya cukup sedih, dan saya kadang bertanya kepada Allah: "kenapa Allah SWT tiak menurunkan pewarisnya sebelum wafat?setidaknya ilmu yang sehebat ulama tersebut ya?". Menggelitik, namun jawaban ini terkadang diperoleh dalam sebuah fenomena kemunculan para ulama-ulama muda. Kaget, tiba-tiba muncul apa karena efek media sosial atau memang ilmunya yang mumpuni. Seberti ulama muda asal Banten mengarang kitab dan berbagai jawaban tentang bab batalnya nasab habaib ba'alwi. Kata dan jawaban ilmiah yang luas seolah-olah tidak habis-habisnya, semakin dalam seperti samudera (Catatan tentang ini, bagi pembaca yang tidak sepaham tidak perlu marah dan memutus persaudaraan kita ya). 

Namun pertanyaan menggelitik diatas saya kembalikan, bahwa hal itu otoritas Allah SWT. Dia memilih kekasih-kekasihNya sesuai kehendaknya, agar orang-orang bodoh seperti saya ini paham akan qadha dan qadar serta takdirNya.

Sebagai penutup. Jika boleh berharap, semoga momentum LI kemarin dapat menyusun kerja-kerja kolektif di Cilebut Barat. Agar lebih mudah setidaknya pengurus dapat menjalankan 9 (sembilan) perintah kader yang diberikan oleh instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) saat itu, yaitu:

  1. Susun database potensi kepengurusan NU Cabang/MWC hingga ranting;
  2. Konsolidasikan kegiatan keagamaan Ahlussunnah Wal Jamaah di dalam organisasi NU maupun di masyarakat
  3. Kunjungi dan datangi para ulama, para kiai, tokoh kuncu yang berpengaruh di masyarakat maupun di organisasi NU
  4. Petakan orang-orang dan simpul gerakan yang berindikasi menyebarkan menyebarkan paham wahbi, radikal islam, faham liberal, neo-komunis dalam segala bentuk dan manifestasinya
  5. Petakan problem dan kelemahan serta ancaman, tantangan dan hambatam terhadap NU di semua tingkatan.
  6. Gerakkan potensi ekonomi warga NU serta sumber-sumber pendanaan NU
  7. Lakukan observasi dan identifikasi perkembangan jumlah warga NU
  8. Lakukan pendataan dan identifikasi lembaga-lembaga strategis NU mulai dari pesantren, masjid-masjid, madrasar, perguruan islam dan lembaga mabarot di lingkungan NU
  9. Lakukan pengembangan jaringan strategis di dalam NU dan di luar NU
Semoga Allah SWT dan Rasulullah SAW memandang kita sebagai hamda dan umat yang selalu mengikuti jejak langkahnya. Sebagaimana prinsip yang diberikan oleh Prof. KH. Said Aqil Siraj, bahwa kita warga NU harus yakin bahwa kita pemegang mandat kebenaran, pemegang estafet keilmuan. Maka dari itu, kita harus hati-hati dan dapat menjadi suri tauladan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam merawat tradisi Islam Nusantara. 

Semoga bermanfaat. Syukron wadumtum fi khairi wabarakati wannajah. Wallahulmuwafiq ila aqwamith tharieq.

Bukit Cilebut Residence, 2 Mei 2026
Alfaqir: Faridh Almuhayat Uhib H.