Minggu, 07 Desember 2025

Dungunya Manusia Sembuh Saat Bencana Datang

Prolog

Tulisan ini bukan untuk mengglorifikasi tentang bagaimana kerja ekosistem hutan itu nyata. Namun ingin kembali menyadarkan kita bersama bahwa salah satu komponen penting di bumi ini adalah hutan.

Sekilas tentang hutan, bahwa hutan merupakan satu kesatuan masyarakat tetumbuhan termasuk hewan dan makhluk hidup lainnya yang membetuk sebuah ekosistem alami dimana antara satu dengan yang lainnya saling berinteraksi/terhubung sehingga menghasilkan manfaat baik yang berada diatas permukaan atau di bawah permukaan lantai hutan yang dapat dinikmati oleh makhluk hidup lainnya. Selama ini banyak yang memandang hutan itu hanya sebatas tegakan pohon yang dapat diambil kayunya, lahannya digunakan berladang atau tambah, sarang binatang buas, hingga hutan dianggap sebagai objek eksploiasi semata.

Kali ini, saya ingin mengenalkan kembali bahwa hutan banyak manfaat yang dihasilkan baik yang dapat dirasakan langsung (_tangilble_) maupun tidak dapat dirasaka secara langsung (_intangible_). Contoh manfaat _tangible_ antara lain kayu, rotan, hasil hutan non-kayu (madu, obat), bahan baku industri, serta penghasil devisa dan lapangan kerja. Sedangkan manfaat _intangilble_ antara lain seperti penyerap karbon, penyedia oksigen, pengatur tata air, pencegah bencana alam (banjir, longsor), penyedia jasa lingkungan (ekowisata, pendidikan), habitat keanekaragaman hayati, serta nilai estetika dan sosial budaya serta spiritual. Kedua manfaat tersebut tidak perlu panjang lebar dijelaskan bagaimana peran dan manfaat dari hutan, yang kali ini akan terdapat hukum sebab akibat dari keberadaan atau kehancuran hutan di negeri Indonesia saat ini.

Peringatan yang Tidak Bosan-bosan

Dalam kitabullah, Alquranulkarim dengan gamblang menerangkan bahwa manusia sebagai _khalifatul fil ardh_ diberikan mandat untuk mengelola dengan ilmu dan mengimplementasikannya dengan amal yang penuh keikhlasan. Sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengajak agar manusia berbuat kebaikan seperti dengan menanam sebutir pohon walaupaun esok akan terjadi kiamat.

Ini sebuat isyarat, bahwa nash-nash dalam Alqur'an dan contoh dari nabi sebagai pertanda bagi orang-orang mukmin dan orang yang bertaqwa agar mengelola dunia dan isinya-termasuk hutan ini harus dengan ilmu dan kebijaksanaan dalam pikiran dan tindakan.

Sejak dahulu, manusia secara naluriah telah mendekatkan diri tentang bagaimana merencanakan sebuah wilayah agar memiliki memiliki keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dengan kebutuhan ekosistem alam/hutan. Namun pada praktiknya, banyak kerusakan yang terjadi karena sifat rakus manusia yang selalu ingin mendapatkan porsi dan hasil yang lebih banyak. Hal inilah yang menjadi landasan bahwa peringatan itu ada sepanjang jaman, namun manusia mengingkarinya akibatnya menjadi dungu. Contoh nyata, di akhir tahun akan sering terjadi bencana banjir, longsor yang mengakibatkan banyaknya korban nyawa dan harta benda masyarakat.

Dari sanalah, mari kita coba merenung sejenak, bahwa bumi bukan datar. Bumi memiliki relief, kontur yang unik. Kebesaran Allah SWT terlihat dengan strata daratan dari mulai pinggir pantai hingga dataran tinggi pegunungan kesemuanya saling terhubung. Penjaganya adalah hutan, hutan dibabat bencana datang dan hutan dilestariakan bumi akan aman.

Pengetahuan Menarik dari Pohon

Kita tahu bahwa pohon memiliki banyak manfaat dari akar hingga ujung daun. Banyak penelitian mengemukakan bahwa pohon dapat menghasilkan oksigen, menyerap karbon dioksida, menyediakan habitat bagi satwa liar, membersihkan udara dan air, mencegah erosi, serta memberikan sumber pangan dan bahan baku, sekaligus meningkatkan estetika lingkungan dan kesejahteraan sosial seperti mengurangi stres dan kejahatan. Ini baru secuil manfaat dari 1 batang pohon, bagaimana jika pohon membentuk sebuah masyarakat pepohonan.

Pepohonan yang bergerombol memiliki daya tarik tersendiri, bagaimana akar-akar mereka saling berpegangan erat di dalam tanah, dedaunan yang saling menyapa dan berbicara antara satu dengan yang lainnya sehingga bermanfaat bagi makhluk lain untuk hidup bersama dengan masyarakat pepohonan, dengan kata lain barter. Pepohonan menyediakan rumah bagi makhluk lain seperti satwa, sedangkan satwa (misal burung) merasa hutang budi maka dibayarlah dengan membantu menyebarkan bijih-bijihan pohon sehingga dapat hidup ditempat lain. Terbentuklah hutan. Saat hujan lebat turun, air terinfiltasi masuk kedalam tanah, berjatuhan secara pelan-pelan sehingga tanah meyerap secara maksimal dan dilepaskan pelan-pelan dalam bentuk mata air hutan yang mengalir jauh hingga masyarakat sekitanya.


Penutup

Hutan memiliki nilai penting bagi kehidupan di bumi khususnya manusia, mengelolanya dengan bijak adalah bentuk kecintaan kepada bumi dan alam semesta. Dari hutanlah manfaat mengalir dari hulu ke hilir. Tugas manusia adalah menjadi khalifah yang memiliki ilmu pengetahuan dalam menjaga dan melestarikan hutan (arti luas). Mari jaga hutan agar hutan dapat terlu megnalirkan manfaat bagi seluruh makhluk di bumi ini.


Bogor, 7 Desember 2025


Alfaqir: Faridh Almuhayat





Tidak ada komentar:

Posting Komentar