Jumat, 12 Desember 2025

Ruang Publik Dihiasi Kabar "Apakabar NU"


Memang bukan soal PBNU saja yang menjadi incaran, namun hingga Ranting NU. Menghancurkan itu akan lebih mudah daripada membangun. Saat kesusahan dan kesulitan dalam perjuangan itulah momentum bagaimana ikatan batiniah maupun dzahiriah terbentuk. Hal ini kemudian disakralkan menjadi "sanad" yang diharapkan semangat perjuangan itu tetap ada dimasa-masa generasi yang akan datang.

Akan tetapi dunia yang kian cepat berubah, membuat sanad menjadi nomor 2. Sebab mereka beranggapan bahwa materi menjadi sarana perantara keberhasilan. Inilah yang disebut oleh KH. Abdullah Bin Nuh sebagai paham materialisme yang dalam perjalanan waktu akan hancur alias tidak kekal abadi.

Dalam hal ini, bukan tentang NU yang akan hancur namun lebih pada bagaimana sumber daya manusianya yang semakin lama akan terjebak soal materialisme yang sebenarnya sepele seperti sel kanker makin lama-makin membesar dan akan mematikan jika tidak diobati.

Seperti hari ini, banyak bermunculan pakar sampai komentator yang menarasikan bahwa "sumber daya manusia NU selama ini kapasitasnya cukup segitu saja, dan selama ini hanya citra di media masa/media sosial yang seolah-olah paling NKRI, paling Pancasilais, paling Berbhineka, paling menjunjung tinggi UUD 1945". Ada juga narasi " ternyata kalo soal duit, NU itu paling mudah di goyah, ternyata hanya dipanggung politik setelah itu hanya soal hafal kitab klasik, dzikir paling sok khusuk, dan lain-lain itu tapi pengamalan cuma nol". Seperti muka di "tampol", bukan hanya PBNU saja, namun sampai Banom-banom dan lembaga yang di "kuliti" oleh (para-para) tadi. Ini hanya kata-kata dari berbagai suara akar rumput yang beragam warna itu-kita jangan baper.


Apakabar NU

Dipojok sana, ada jamaah NU yang bertanya " Apakabar NU kang? masih terus bergerilya memperbaiki organisasi? atau sudah membuat sekolah gratis, layanan kesehatan gratis, masih suka buat masjid-masjid yang bercorak NU kan?bisa dikabarkan ke saya kang? Maklum sudah kepala 5 tidak banyak update sebab NU disini juga sudah lama tidak terlihat."

Sontak kepala bingung akan menjawab apa, soalnya ditengah badai pemberitaan tentang NU yang masih jilid 1 ini belum selesai, tuntutan dan harapan jamaah kepada NU terus bergulir. Artinya jika boleh ditafsirkan bahwa "organisasi dalam kondisi apapun harus tetap menjalankan fungsinya yaitu bergerak merawat jamaah dan memajukan organisasi" walaupun ada perbedaan atau khilafiah soal hukum-hukum tertentu itu biasa, namun bukan soal bagi-bagi jabatan atau saham atas aset yang ada di NU yang terkadang masih tidak transparan atau sering jadi rebutan.

Leadership itu penting. Apalagi NU ini sudah banyak kitab membahas bagaiamana sosok pemimpin yang dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bukannya harus diamalkan bab itu. Sehingga ditubuh NU itu tetap adem.

Nah inilah pentingnya "mendem jero mikul duwur" atau berani menutupi kekurangan tim dan meninggikan tujuan bersama.

Tidak perlu diajari "ing ngarso sung tuladha..." ini, sebab banyak yang mengira orang NU sudah khatam. Namun saat ini kita diberikan contoh yang tidak seperti itu, entah itu yang dimaksud Rois atau Tanfidz nya. Lebih tidak elok jika akar rumput tidak memiliki kepentingan apa-apa mendapatkan dampak buruk dari situasi ini, yaitu jamaah yang mulai menyepelekan kekuatan dan kiai-kiai NU.

Maka, kali ini kita perlu muhasabah diri atau istighotsah untuk kebaikan bersama. Doa dan harapan kepada pemimpin-pemimpin NU dari PBNU sampai Ranting NU menjadi suri tauladan yang baik, membangun organisasi yang baik, dengan adab dan tutur kata yang baik serta berjalan dengan aturan organisasi sebaik mungkin.

Kita jangan kalah dengan slogan para pecinta NU yang sering menuliskan tulisan di belakang layar kaca mobil, truk, bus, oplet "Innama al-'usri yusra" (إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا) Al-Qur'an dari Surat Al-Insyirah (Asy-Syurah) ayat 5-6, yang artinya "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan". Mereka berjuang tanpa mengharap imbalan demi Islam dan Indonesia.


Tabik.


Bogor, 12 Desember 2025

Faridh Almuhayat Uhib H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar