Jumat, 10 April 2026

MEMBUMIKAN TORIQOH DALAM JANTUNG MASJID: OBAT HAUS UMAT ISLAM PERKOTAAN


 

Prolog

Hari ini tadi Jumat 10 April 2026 – 21 Syawal 1447 H peristiwa bersejarah di Vila Bogor Indah yaitu mendaratnya cita-cita para muharik Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Bogor dengan membuminya Jamiiyyah Ahlit Tariqah Muktabarah Annahdliyyah (JATMAN). Penuh keberanian dan penuh makna simbolik yang perlu ditangkap dan disyiarkan di wilayah Vila Bogor Indah Kelurahan Ciparigi Kecamatan Bogor Utara. Kenapa begitu? Tidak lain peran strategis pengurus masjid dalam hal ini Mus’ab Bin Umair berikut Yayasannya dalam berkolaborasi dengan Jatman untuk mengisi ruang-ruang kosong agar ruhani ummat Nabi tetap terjaga.

Mengapa begitu? Kita umat Islam sering terkecoh dengan padatnya masjid kita dengan ibadah rutin, mulai dari yang wajib hingga yang sunnah bahkan tidak sedikit penceramah tersohorpun hadir untuk mengisi kepadatan kegiatan di masjid. Ada hal yang telupa bahkan lepas dari pandangan kita yaitu makanan jiwa, ruhani kita yang harus melewati jalan khusus yaitu toriqoh. Tentu ada yang memaknai toriqoh itu berbagai macam, akan tetapi ada satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa dalam mensucikan jiwa dan ruhani kita membutuhkan bimbingan oleh guru-guru yang muktabar sanadnya. Maka proses pensucian jiwa inilah yang harus dibumikan di masjid-masjid sekitar kita agar umat terbimbing dan tersambung hingga kelak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Pekerjaan Rumah DKM dan Jatman

Hiruk pikuk dunia tiada henti-hentinya, ekosistem manusia yang beragam menjadikan kita harus memotret dengan kacamata helikopter. Kesibukan sehari-hari khususnya umat Islam harus dibarengi dengan santapan ruhani yang “topcer” agar waktu yang tersisa dalam hidup tidaklah sia-sia. Sekilas dengan ibadah dan amaliah sehari-hari itu kita sudah pede akan masuk surga. Boleh, namun perlu di ingat ibadah yang telah kita lakukan menjamin masuk surga, oleh sebab itu santapan ruhani yang ada dan sering kita dengan dan lafadkan yaitu kalimat tauhid lailaha illallah muhammadur rasulullah.

Tidak lain kalimat itu adalah pemberat timbangan akhirat. Tugas rumah para pengurus DKM yaitu mengajak agar umat islam kembali bersatu dalam kalimat agung dan mulia tersebut, namun bukan untuk kampanye politik seperti yang dilakukan oleh ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau sejenisnya dengan wajah dan ciri-ciri mudah di tebak.
Jatman sebagai induk (server) yang menghubungkan antara kebutuhan ruhani umat Islam dan mereka mengajak untuk menguatkan kalimat tauhid tersebut, sebagai dzikir dan “jimat” kepada jamaah. Diharapkan kalimat tersebut sebagai kekuatan di akhir zaman. Boleh dikatakan sebagai ajian pamungkas. Sedangkan masjid dengan aktivitas ritual keseharian dapat menjadi penghubung yang menghubungkan antara umat dengan server besar yang siap untuk di download oleh umat agar lebih dekat kepada Allah Azzawajala.

Silaturahim dan liqou syawal hari ini tadi, terkadang membuat daya kejut bagi jamaah. Sebab tidak ada angin tidak ada hujan, Jatman muncul di arena yang tingkat sensifitasnya tinggi. Kenapa sensitif? Sebab Masjid Mus’ab bin Umair memiliki sejarah peralihan kepengurusan cukup unik serta tipologi jamaah yang beragam, dari jamaah yang setuju dengan paham ahlussunnah wal jamaah (Aswaja), kurang setuju hingga tidak setuju dengan paham Aswaja. Hal ini wajar, namun saya melihat karena ada akar yang tercerabut saat peletakan pondasi ideologi Aswaja saat masjid berdiri dan menjalankan manajemannya.

Pekerjaan rumah DKM Mus’ab bin Umair berat, namun ini patut menjadi contoh bagi masjid-masjid di lingkungan perumahan lainnya tentang keberanian untuk mengembalikan ghirah amaliah Aswaja sejak dini.

Selanjutnya?

Tentu DKM dan Jatman jangan terpisahkan. Untuk mengobati hausnya ruhani masjid dengan aktivitas ketoriqohannya dapat mengisi ruang kosong jamaah, mulai dari tataran syariatnya hingga hakikatnnya. Syariat ini penting sebagai fondasi untuk memandang bahwa toriqoh itu bukan sesuai yang menakutkan sebagaimana selama ini dipandang umat yang berpaham awam dan kagetan. Kaget dalam memahami tentang toriqoh yang dianggap memasrahkan diri pada makhluk yaitu mursyid. Terkadang pemahaman ini masih dianggap menakutkan, padahal hakikatnya bukan itu. Mursyid sebagai pembimbing ruhani.

Ada dua aspek yang perlu dilakukan oleh pengurus masjid agar jamaah mengikuti toriqoh: 1) Aspek pemahaman tentang toriqoh, dan 2) Aspek pengamalan tentang toriqoh. Tentu perangkat yang harus disiapkan yaitu infrastruktur kaderisasi yang berjenjang seperti masjid menghadirkan pengisi kajian-kajian yang memiliki pemahaman yang sesuai dengan ajaran toriqoh, dalam hal ini adalah JATMAN.
Tidak lain semua itu bermuara nilai ke NU an yang intinya membumikan ajaran Aswaja Annahdliyyah. Jika sudah ber NU, maka akan mudah untuk mengurai benang-benang kusut kesimpang siuran jamaah dalam mencari jati diri.

Semoga Allah memberikan rahmat dan taufiq serta hidayah kepada ktia semua, serta jadikan NU sebagai sarana mendekatkan diri kepadaNya.

Cilebut, 10 April 2026-21 Syawal 1447 H

Alfaqir Faridh Almuhayat Uhib H.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar