Prolog
Hari ini tadi Jumat 10 April 2026 – 21 Syawal 1447 H peristiwa
bersejarah di Vila Bogor Indah yaitu mendaratnya cita-cita para muharik
Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Bogor dengan membuminya Jamiiyyah Ahlit Tariqah
Muktabarah Annahdliyyah (JATMAN). Penuh keberanian dan penuh makna simbolik
yang perlu ditangkap dan disyiarkan di wilayah Vila Bogor Indah Kelurahan
Ciparigi Kecamatan Bogor Utara. Kenapa begitu? Tidak lain peran strategis
pengurus masjid dalam hal ini Mus’ab Bin Umair berikut Yayasannya dalam
berkolaborasi dengan Jatman untuk mengisi ruang-ruang kosong agar ruhani ummat
Nabi tetap terjaga.
Mengapa begitu? Kita umat Islam sering terkecoh dengan padatnya
masjid kita dengan ibadah rutin, mulai dari yang wajib hingga yang sunnah
bahkan tidak sedikit penceramah tersohorpun hadir untuk mengisi kepadatan
kegiatan di masjid. Ada hal yang telupa bahkan lepas dari pandangan kita yaitu
makanan jiwa, ruhani kita yang harus melewati jalan khusus yaitu toriqoh. Tentu
ada yang memaknai toriqoh itu berbagai macam, akan tetapi ada satu hal yang
perlu digaris bawahi bahwa dalam mensucikan jiwa dan ruhani kita membutuhkan
bimbingan oleh guru-guru yang muktabar sanadnya. Maka proses pensucian jiwa
inilah yang harus dibumikan di masjid-masjid sekitar kita agar umat terbimbing
dan tersambung hingga kelak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dan
Rasulullah SAW.
Pekerjaan Rumah DKM dan Jatman
Hiruk pikuk dunia tiada henti-hentinya, ekosistem manusia
yang beragam menjadikan kita harus memotret dengan kacamata helikopter.
Kesibukan sehari-hari khususnya umat Islam harus dibarengi dengan santapan
ruhani yang “topcer” agar waktu yang tersisa dalam hidup tidaklah sia-sia.
Sekilas dengan ibadah dan amaliah sehari-hari itu kita sudah pede akan
masuk surga. Boleh, namun perlu di ingat ibadah yang telah kita lakukan
menjamin masuk surga, oleh sebab itu santapan ruhani yang ada dan sering kita
dengan dan lafadkan yaitu kalimat tauhid lailaha illallah muhammadur
rasulullah.
Tidak lain kalimat itu adalah pemberat timbangan akhirat.
Tugas rumah para pengurus DKM yaitu mengajak agar umat islam kembali bersatu
dalam kalimat agung dan mulia tersebut, namun bukan untuk kampanye politik
seperti yang dilakukan oleh ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau
sejenisnya dengan wajah dan ciri-ciri mudah di tebak.
Jatman sebagai induk (server) yang menghubungkan antara kebutuhan ruhani umat
Islam dan mereka mengajak untuk menguatkan kalimat tauhid tersebut, sebagai
dzikir dan “jimat” kepada jamaah. Diharapkan kalimat tersebut sebagai kekuatan
di akhir zaman. Boleh dikatakan sebagai ajian pamungkas. Sedangkan masjid dengan
aktivitas ritual keseharian dapat menjadi penghubung yang menghubungkan antara
umat dengan server besar yang siap untuk di download oleh umat agar lebih dekat
kepada Allah Azzawajala.
Silaturahim dan liqou syawal hari ini tadi, terkadang membuat
daya kejut bagi jamaah. Sebab tidak ada angin tidak ada hujan, Jatman muncul di
arena yang tingkat sensifitasnya tinggi. Kenapa sensitif? Sebab Masjid Mus’ab
bin Umair memiliki sejarah peralihan kepengurusan cukup unik serta tipologi
jamaah yang beragam, dari jamaah yang setuju dengan paham ahlussunnah wal
jamaah (Aswaja), kurang setuju hingga tidak setuju dengan paham Aswaja. Hal ini
wajar, namun saya melihat karena ada akar yang tercerabut saat peletakan
pondasi ideologi Aswaja saat masjid berdiri dan menjalankan manajemannya.
Pekerjaan rumah DKM Mus’ab bin Umair berat, namun ini patut
menjadi contoh bagi masjid-masjid di lingkungan perumahan lainnya tentang
keberanian untuk mengembalikan ghirah amaliah Aswaja sejak dini.
Selanjutnya?
Tentu DKM dan Jatman jangan terpisahkan. Untuk mengobati hausnya
ruhani masjid dengan aktivitas ketoriqohannya dapat mengisi ruang kosong jamaah,
mulai dari tataran syariatnya hingga hakikatnnya. Syariat ini penting sebagai
fondasi untuk memandang bahwa toriqoh itu bukan sesuai yang menakutkan sebagaimana
selama ini dipandang umat yang berpaham awam dan kagetan. Kaget dalam memahami tentang
toriqoh yang dianggap memasrahkan diri pada makhluk yaitu mursyid. Terkadang
pemahaman ini masih dianggap menakutkan, padahal hakikatnya bukan itu. Mursyid
sebagai pembimbing ruhani.
Ada dua aspek yang perlu dilakukan oleh pengurus masjid agar
jamaah mengikuti toriqoh: 1) Aspek pemahaman tentang toriqoh, dan 2) Aspek
pengamalan tentang toriqoh. Tentu perangkat yang harus disiapkan yaitu
infrastruktur kaderisasi yang berjenjang seperti masjid menghadirkan pengisi
kajian-kajian yang memiliki pemahaman yang sesuai dengan ajaran toriqoh, dalam
hal ini adalah JATMAN.
Tidak lain semua itu bermuara nilai ke NU an yang intinya membumikan ajaran
Aswaja Annahdliyyah. Jika sudah ber NU, maka akan mudah untuk mengurai
benang-benang kusut kesimpang siuran jamaah dalam mencari jati diri.
Semoga Allah memberikan rahmat dan taufiq serta hidayah
kepada ktia semua, serta jadikan NU sebagai sarana mendekatkan diri kepadaNya.
Cilebut, 10 April 2026-21 Syawal 1447 H
Alfaqir Faridh Almuhayat Uhib H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar