Sabtu, 11 April 2026

Geopolitik Dunia yang Memanas, Apakabar Peradaban Nusantara?

Mukadimah

Sebagaian umat Islam saat ini sedang riang gembira melihat keterwakilan atas sakit hati mereka terhadap kelakuan bangsa Zionis Israel yang selama ini melakukan tipu daya dan kekejaman terhadap bangsa-bangsa khususnya Palestina. Gembira melihat negara Republik Islam Iran (RII) melakukan perlawanan balasan atas peristiwa pengeboman di wilayah kedaulatannya oleh Israel, hingga kini.

Situasi ini kemudian berbalik, dengan hadirnya Amerika Serikat (AS) yang percaya diri untuk melakukan dukungan kepada Israel agar terus melangsungkan pengeboman hingga terbukalah maksud tujuannya mendukung Israel, yaitu AS yang menginginkan kuasa atas minyak bumi di RII.

Topeng yang selama ini setengah dibuka, saat ini terbuka sifat aslinya kedua negara ini Israel dan AS (IAS) yaitu rakus, bengis, dan licik. Jika orang Surabaya bilang dengan kesal sembari berkata "Juancuk".

Jangan kaget. Sebab sebenarnya kita sudah tahu lama sifat asli mereka sejak dulu, hanya saja tidak ada yang berani terang-terangan melawan sebagai negara seperti RII. Ada yang berani namun itu sayap-sayap sipil seperti Hizbullah.

Terkadang kita juga bertanya, siapakah Hizbullah? bukan mengecilkan namun ada juga para analis politik bertanya dengan randomnya saat kondisi negara sekitar wilayah Israel aman, mereka melakukan gerakan perlawanan ke Israel dengan menembakkan entah peluru, bom, dll. Lalu situasi caos, kacau yang berimbas pada tindakan kekerasan kepada rakyat sipil oleh tentara bahkan penyerobotan lahan-lahan di Lebanon, dan negara sekitarnya.

Sebagaimana di Palestina, ada pasukan Hammas yang pengamat juga mengatakan saat situasi aman mereka membakkan milisi ke Israel sehingga tindakan itu sebagai alasan Israel untuk sewenang-wenang dengan dalih memerangi Hizbullah dan Hammas. Luas tanah Israel makin lebar, rakyat Palestina dan Lebanon tergusur. Walaupun ada juga yang tidak sependapat dengan pengamat tersebut, sebab perjuangan mereka ini dianggap mewakili rakyat sipil di negara tersebut karena negaranya tidak bertindak atas kekejaman Israel.


Dimana Indonesia?

Indonesia berdiri sebagai negara independek, bebas aktif dan perang bukanlah jalan penyelesaian. Walaupun tegas bahwa sejak dulu Indonesia berdiri diatas kemerdekaan Palestina, bukan Israel. Israel tidak diakui sebagai negara oleh bangs Indonesia. Namun, terkadang konspirasi pemikiran yang berlangsung lama melalui kerjasama dengan negara-negara sahabatnya (AS, Inggris, Perancis, Uni Emirat Arab, dll) masuk dalam pikiran dan tindakan rakyat Indonesia. Akibatnya seolah-olah mulai melunak cara pandang Indonesia terhadap Israel.

Tidak kali ini. Masyarakat jengah dengan adegan kekejaman bangsa Israel. Namun bagaimana sikap kejengahan tersebut belum dapat diwakilkan oleh pemimpin negara kita yang terkadang belum tegas dengan sikap dan tindakan kepada negara Israel. Tidak cukup pemimpin, bahkan tokoh-tokoh Indonesia juga membuka diri dengan Israel pada tawaran-tawaran kesempatan baik lewat diplomasi budaya, agama, atau atas nama kesetaraan dan perdamaian dll.

Maka kita belajar dari peristiwa saat ini. Indonesia membutuhkan pemimpin yang didukung oleh para ahli-ahli berbagai bidang untuk mempersiapkan diri dengan berbagai peristiwa, seperti: 1) Jika keadaan negara kekurangan sumber energi, 2) Jika negara kekurangan bahan pangan, 3) Jika terjadi bencana ekologi, 4) Jika terjadi bencana penyakit, 5) dan kalimat tanya jika-jika lainnya itu. Tindakan mitigasi dan adaptasi juga harus dipersiapkan.

Melihat RII kita memahami bahwa ideologi itu sebagai kekuatan untuk memperjuangkan bangsa dan negara agar berdiri diatas kaki sendiri (Berdikari). Indonesia sebenarnya punya itu, tetapi saat ini dimana dan kemana slogan dan cita-cita founding father bangsa tersebut? Apakah berpindah ke RII? Kita sedang sibuk dengan mencemooh RII itu Syiah hingga di wilayah kita ada tragedi kemanusiaan karena berbeda faham keIslamannya. Siapa yang melakukannya?kita tentu sudah tahu siapa kelompok tersebut.


PBNU: Kunci Menguatkan Jati Diri Bangsa

Pancasila, Bineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang-Undang Dasar 1945, empat pilar tersebut jika boleh disingkat dengan PBNU. Pentingnya PBNU dalam segala aspek kehidupan, tentu ini dimulai dari kejujuran para aparatur penyelenggara negara dari tingkat RT hingga Presiden, dari wakil rakyat di daerah hingga pusat.

Pilar PBNU yang terus digaungkan ini ada manfaatnya, bagi yang sadar dengan kebutuhan pilar tersebut. Namun ada juga yang tidak sadar, sebab mereka melakukannya dengan berjamaah dalam menggerogoti kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Bisa saja mereka ini proxy atau agen bangsa lain (luar negeri) atau mereka adalah tumbuh karena kondisi lokal (rakus dan haus kekuasaan) yang kedua berdampak negatif.

Pada akhirnya kita disuguhi ketimpangan setiap harinya, dengan segala persoalan bangsa ini kita perlu bergerak secara kolektif. Jujur akan kekuatan bangsa Indonesia yang memiliki nilai budaya luhur Nusantara. Kita tidak perlu menindas orang lain untuk kaya, untuk berkuasa, untuk lebih dari orang lain. Sebab PBNU tidak mengajarkan itu.

Mari kembali kepada jati diri kita yaitu PBNU. Seolah jargon itu menjadi buah cibiran saat ini, namun jika kita menjalankannya dengan hati nurani yang tulus, insya Allah kita mendapatkan arah dan manfaat yang jelas dan terarah. Jika bukan kita yang menikmati setidaknya anak cucu kita dan generasi bangsa Indonesia dimasa yang akan datang, min yaumil qiyamah. Aamiin.


Ciparigi, 11 April 2026 - 22 Syawal 1447 H

Alfaqir Faridh Almuhayat Uhib H.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar